Air Terjun Randusari, Si Kembar Dari Dlingo Bantul

Simpangan Beringin Saat Menuju Air Terjun Randusari Bantul

Air Terjun Randusari atau dahulu dikenal dengan nama Air Terjun Banyutibo merupakan satu-satunya air terjun kembar yang berada di perbukitan Dlingo Bantul. Keberadaannya terhitung terlambat untuk dikembangkan menjadi obyek wisata karena kalah promosi wisata dengan Air Terjun Grojogan Lepo yang masih satu kecamatan. Secara administratif air terjun ini terletak di dusun Rejosari, desa Jatimulyo, kecamatan Dlingo, kabupaten Bantul

Cara Menuju Kesana

Ada dua pilihan rute menuju ke Air Terjun Randusari, pertama melalui Jalan Wonosari-Bukit Patuk dan kedua melalui Jalan Imogiri-Mangunan. Rute pertama terbilang lebih singkat dibandingkan dengan rute kedua yang sedikit memutar. Rute jalan pertama dipilih bila ingin langsung menuju ke air terjun dan rute kedua dapat dijadikan wisata sejalur bila ingin berhenti di beberapa lokasi wisata.

Rute pertama dari pusat kota Yogyakarta ke arah timur menuju ke Jalan Wonosari. Ikuti jalan tersebut hingga pertigaan lampu merah Patuk dan pilihlah jalan naik menuju ke arah patuk/Gunungkidul. Setelah melewati kawasan Bukit Bintang dan Gapura masuk Gunungkidul akan menemui sebuah perempatan kecil tanpa lampu lalulintas serta ada pos polisi kecil di bagian sudut. Arahkan kendaraan yang kamu tumpangi ke kanan atau ke arah Dlingo Bantul. Ikuti jalan tersebut melewati kawasan gardu pandang Watu Amben hingga menemui perempatan yang ditengah-tengah terdapat pohon beringin. Dari perempatan pohon beringin arahkan kendaraan ke kiri menuju ke Jatimulyo Dlingo. Sesampai di (desa) Jatimulyo sudah terpasang papan petunjuk arah menuju ke lokasi air terjun.

Rute kedua dari pusat kota Yogyakarta ke arah selatan atau tenggara melewati Terminal Giwangan dan Jalan Imogiri Timur. Sesampai di persimpangan selatan Pasar Imogiri Baru arahkan kendaraan ke kiri menuju ke Kebun Buah mangunan. Kondisi jalan perlahan-lahan menanjak hingga melewati Bukit Bego (Kedung Buweng) dan tiba di pertigaan dekat kantor desa Mangunan. Pilihlah jalan ke kiri atau naik menyusuri area hutan yang saat ini dikembangkan menjadi kawasan wisata yaitu Hutan Pinus Mangunan dan Puncak Pinus Becici. Kondisi jalan berangsur-angsur mendatar dan tiba di perempatan pohon beringin seperti rute pertama. Dari tempat ini arahkan ke kanan menuju ke desa Jatimulyo Dlingo dan petunjuk jalan sudah ditemui hingga lokasi.

Area Parkir Air Terjun Randusari Bantul

Area parkir yang disediakan pengelola Air Terjun Randusari cukup sempit dan sebagian masih menumpang halaman rumah warga. Untung saja saya membawa kendaraan roda dua dan dapat memarkir kendaraan lebih dekat ke lokasi air terjun. dari area parkir ini, kami bertiga masih berjalan kaki menyusuri jalan setapak di belakang pemukiman penduduk. Perlahan-lahan jalan yang kami lewati mulai menurun dan ketika tiba di dasar bukit mulai terdengar bunyi gemericik air yeng deras. Akhirnya beberapa saat kemudian kami tiba di area Air Terjun Randusari.

Air Terjun Musiman Yang Indah

Air Terjun Randusari meski dilabeli sebagai air terjun musiman ternyata memiliki pesona keindahan yang tidak kalah menarik dengan air terjun yang mengalir sepanjang tahun. Debit air yang cukup deras pada musim penghujan ini membuat pemandangan air terjun kian apik berselimut lumut hijau di sekeliling air terjun. Bongkahan batu besar yang berada di puncak air terjun membelah aliran air terjun menjadi dua bagian layaknya air terjun kembar. Bagi saya pribadi bentuk air terjun kembar ini memiliki kemiripan dengan Air Terjun Jumog yang berada di karanganyar Jawa Tengah.

Pemandangan Air Terjun Randusari Bantul

Kesimpulan

Pesona Air Terjun Randusari di perbukitan Dlingo Bantul masih jarang terdengar dibandingkan air terjun lain yang ada disekitar Yogyakarta. Padahal bentuk air terjun kembar ini cukup jarang ditemukan dan mungkin satu-satunya yang ada di sekitar kabupaten Bantul. Kondisi sepinya kawasan air terjun ini menjadikan tempat ini masih terlihat bersih dari sampah yang dibuang oleh wisatawan yang kurang peduli terhadap lingkungan. Demi menjaga kebersihan diharapkan pengunjung yang datang membuang sampah ditempatnya atau membawa kembali sampah ke area parkir. (text/foto: annosmile)

 

Incoming search terms:

    sejarah asal usul kali sendang ayu dodogan di kecamatan dlingo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *