Apa dan Solusi Fenomena Pengendara Di Bawah Umur

Sering kali ketika kita berkeliling di sudut-sudut jalan kecil daerah perkotaan atau jalan-jalan pedesaan, kita melihat anak SD atau SMP mengendarai sepeda motor dengan santainya melewati lalu lintas yang padat. Mereka mengendaraan sepeda motor tanpa tahu bahaya yang mereka hadapi. Selain itu mereka belum cukup umur untuk diperbolehkan mengendarai kendaraan bermotor di jalan umum.

Pernah suatu kali saya bertanya kepada anak tetangga saya yang masih SMP, kebetulan baru pulang kerumah dengan mengendarai sepeda motor. “Kok sudah berani naik sepeda motor sendiri, gak takut kenapa-kenapa dijalan?”. Dijawab dengan simpel oleh anak tersebut, “Gak apa-apa mas kan cuma deket, ke warung sebelah diujung. Lagian ini jalan kampung yang sepi dan gak ada pak polisi yang jaga”. Aku hanya terdiam mendengar perkataan tersebut seraya anak tersebut memasuki rumahnya.

Lain cerita ketika pulang ke kampung halaman, saya memergoki anak satu kampung yang berpakaian seragam SD sedang mengendarai motor keluar dari sekolahannya. Sepertinya itu memang disengaja oleh orang tuanya karena tidak ada yang mengantarkan dia berangkat ke sekolah.

Baru-baru ini juga terdengar berita genk motor anak SMP terlibat tawuran di salah satu koran daerah. Sepertinya semakin bertambah jumlah pengendara sepeda motor yang masih dibawah umur atau belum memiliki surat izin mengemudi.

Parahnya lagi selain dibawah umur, mereka juga tidak menggunakan peralatan pengaman dalam berkendara seperti helm standar. Rata-rata mereka mengendarai sepeda motor dengan kecepatan yang cukup tinggi dan tanpa memikirkan keselamatan jiwa mereka. Dari laporan data kecelakaan tiap tahun, korban pengendara motor yang dibawah umur jumlahnya meningkat.

Jadi, siapa yang harus disalahkan kalau mereka mendapat musibah kecelakaan disebabkan ulah mereka mengendarai sepeda motor yang jelas-jelas sebetulnya dilarang? Apakah orang tua si anak? Apa mungkin orang yang menabrak? atau si anak sendiri? Sebetulnya semua salah dan kita harus berupaya berbenah dari awal sebelum kejadian seperti ini sering terjadi setiap tahun.

Dalam pendidikan setingkat SMP dan SMA sudah ada pembelajaran “Pentingnya Pendidikan Seks Usia Dini” memang memberikan informasi kepada siswa-siswi di sekolahan agar menghindari hubungan seks usia dini di luar nikah yang saat ini rentan terjadi dan informasi mengenai kesehatan reproduksi usia muda. Dari latar belakang tersebut sebaiknya juga dimasukkan dalam kurikulum mengenai “Etika Berkendara Yang Baik dan Aman di Jalan Umum” yang isinya membahas mengenai syarat mengendarai kendaraan bermotor dijalan dan peraturan mengenai rambu-rambu lalu lintas.

Peran Kepolisian disini cukup penting untuk memberikan pengarahan dan informasi kepada para siswa tentang etika dan keselamatan berkendara. Diharapkan kepolisian mau bergerak memberikan penyuluhan ke sekolah-sekolah karena ini merupakan wujud pengabdian polisi terhadap masyarakat demi terciptanya keamanan dan keselamatan warga Indonesia. Sosialisasi etika dan keselamatan berkendara di sekolah-sekolah diharapkan bisa menyadarkan para siswa untuk pentingnya keselamatan diri dan bahaya mengendarain kendaraan di bawah umur di jalan umum. Selain itu juga pembagian pamflet kepada para orang tua untuk mengingatkan dan mencegah anaknya untuk mengendarai kendaraan sendiri sebelum cukup umurnya dan memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM). Semoga dengan usaha kepolisian dalam mewujudkan keselamatan berlalu lintas ini mampu mengurangi angka kecelakaan lalu lintas yang setiap tahun semakin naik atau bertambah.

Incoming search terms:

Comments
  1. gua | Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>