Aktivitas Pagi Di Jembatan Pundong Bantul

Jembatan Nambangan Pundong Bantul

Memotret aktivitas pagi di Jembatan Pundong menjadi ide kami berburu foto Human Interest (HI) di sekitar Yogyakarta atau lebih tepatnya di Bantul. Jembatan ini cukup terkenal di kalangan fotografer sekitar Yogyakarta dan karena keeksotisannya yang masih kental dengan suasana pedesaan. Bahkan jembatan beberapa kali digunakan menjadi spot hunting dalam rangkaian acara photo trip atau tour yang diselenggarakan oleh event organizer yang membidik para penghobi foto dari luar daerah atau Indonesia.

Perjalanan menuju Jembatan Pundong membutuhkan waktu sekitar 30-45 menit dengan jarak sekitar 20 kilometer. Kondisi jalan pagi hari yang mulai ramai membuat kami tidak dapat memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi. Tiba di spot foto dari tebing atas jembatan, kami pun segera mempersiapkan kamera dan lensa. Tidak lupa kami melakukan pengecekan pada baterai dan memorycard yang terpasang. Melihat ada penduduk yang melintas kami pun segera mengabdikan moment yang ada. Aktivitas penduduk yang menggunakan sepeda dan berjalan kaki melintasi jembatan cukup menarik perhatian kami. Kondisi jembatan pun semakin ramai ketika tiba waktunya berangkat kerja dan berangkat ke sekolah. Sekitar pukul 07.30, suasana jembatan mulai sepi dan kami mengakhiri perburuan foto di tempat ini.

Foto Bersama Jembatan Gantung Pundong Bantul April 2016

Acara selanjutnya adalah berfoto bersama di Jembatan Gantung Pundong yang sekarang sudah sangat jarang dilalui oleh pengguna jalan. Alasannya karena disebelahnya telah dibangun jembatan permanen yang lebar dan dapat dilalui kendaraan berukuran besar seperti bus dan truk. Kondisi jembatan gantung yang sepi ini menjadi tempat kami berfoto bersama atau yang sekarang dikenal dengan istilah wefie. Tripod kami atur pada kondisi tertinggi kemudian menggunakan berfoto menggunakan remote. Acara belum berakhir karena kami memutuskan untuk sarapan bersama terlebih dahulu.

Warung nasi sayur di dalam Pasar Pundong Bantul akhirnya menjadi pilihan kami bersantap kami setelah sebelumnya kebingungan mencari kuliner yang unik untuk dinikmati. Sedikit yang kami tahu bahwa wisata kuliner khas Pundong yaitu Mie Des buka pada sore atau malam hari saja. Kendaraan kami arahkan menuju ke dalam area pasar dan kami parkir di dekat warung yang berada di sebelah pojok. Menu makanan yang disediakan warung tersebut adalah masakan khas desa yang terdiri dari oseng-oseng daun pepaya, sayur brongkos tahu, mangut lele, opor ayam, dan sambal tempe. Pengunjung warung dipersilakan mengambil makanannya sendiri-sendiri. hal yang menarik adalah sajian teh gula batu dengan racikan teh yang sungguh nikmat. Salah seorang teman kami sangat cocok dengan minuman tersebut dan sempat tambah 3 gelas lagi saat bersantai sambil ngobrol. Hari semakin siang dan kami mengakhiri acara sarapan dan bersantai di sebuah warung dalam Pasar Pundong Bantul tersebut. Setelah membayar makanan dan minuman, kami langsung bergegas pulang menuju ke arah kota Yogyakarta. (text/foto: annosmile)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *