Juguran Pesta Durian Alasmalang Banyumas

Kesenian Kentongan

Berawal dari undangan via email yang dikirimkan oleh Estiko beberapa waktu yang lalu, akhirnya saya menghadiri acara yang bertema Juguran Pesta Durian. Sejak awal membaca undangan yang dikirimkan, saya langsung tertarik dengan tema judul yang berkaitan dengan buah yang paling saya suka yaitu durian. Tanpa pikir panjang saya pun mengiyakan akan hadir dalam acara tersebut yang diselenggarakan di daerah Alasmalang, kabupaten Banyumas. Memasuki hari-h, saya pun berangkat dengan menggunakan sepeda motor dari Yogyakarta menuju ke Banyumas. Sebelumnya sempat berpikiran menggunakan transportasi umum semacam bus, namun cukup merepotkan bila meminta jemputan karena tidak adanya transportasi umum menuju ke lokasi.

Alhamdulillah perjalanan menuju ke Banyumas tidak ada kendala yang berarti meskipun sempat tersesat ketika menuju Alasmalang melewati jalan kecil. Saya memilih menuju ke rumah Estiko karena kurang tahu lokasi acara Juguran Pesta Durian. Saat tiba di rumah Estiko suasana tampak sepi dan beliau tidak berada dirumah. Saya pun diminta duduk sejenak sambil menunggu Estiko menghampiri saya dirumahnya. Tidak berapa lama Estiko datang dan mengajak saya langsung menuju lokasi karena Juguran Pesta Durian akan segera dimulai.

Pelatihan Menyambung Bibit Durian

Saya melewatkan pembukaan Juguran Pesta Durian karena masih melepas lelah di rumah Estiko kemudian datang saat dimulai pertunjukkan Kesenian Kenthongan yang dimainkan oleh penduduk Alasmalang sebagai salah satu kesenian setempat. Meskipun kurang tahu judul lagu apa yang dimainkan, bunyi yang dikeluarkan oleh permainan kenthongan cukup merdu dan enak didengar. Sambil menikmati pertunjukkan Kesenian Kenthongan, saya dipersilakan mencicipi minuman jus durian yang diolah oleh warga sekitar. Menurut saya, rasa jus durian cukup enak dan unik namun kekurangannya jus tersebut terlalu manis di lidah saya.

Mungkin lidah saya yang kurang suka dengan rasa terlalu manis sehingga hanya mampu meminum jus durian setengah botol saja. Sambil mendengarkan Kesenian Kenthongan, saya berkenalan dan bersalaman dengan temen-temen yang datang dari luar kota seperti Roni dan Gofur dari Blogger Warok Ponorogo, Haqqi dari Blogger Ngalam, beberapa anggota Penadesa, jurnalisme warga, dan sebagainya. Acara selesai dan kami dipersilakan mencicipi durian lokal yang disediakan oleh panitia. Ini merupakan waktu yang kami tunggu-tunggu karena alasan utama kami menghadiri acara ini. Belasan durian pun ludes seketika dimakan bersama teman-teman peserta acara Juguran Pesta Durian. Setelah selesai, kami briefing sejenak dan dilakukan pembagian kamar menginap. Kami dipersilakan beristirahat sejenak sebelum kembali mengikuti acara Juguran Pesta Durian pada malam harinya.

Curug Goa

Malam harinya, kami kembali berkumpul ditempat semula untuk mengikuti pelatihan penyambung bibit durian. Kami mendapat penjelasan mengenai cara-cara menyambung bibit durian dari dua jenis durian yang berbeda. Biasanya bagian atas menggunakan batang dari pohon durian monthong sedang bagian bawah atau akar dan batang menggunakan bibit durian lokal. Proses penyambungan ini cukup sederhana meskipun diperlukan ketelitian. Selanjutnya para peserta Juguran Pesta Durian dipersilakan mencoba sambil berbincang-bincang dengan petani durian yang hadir ditempat tersebut. Acara pelatihan menyambut durian akhirnya selesai dan kami dipersilakan duduk menikmati sajian pertunjukkan dangdut sambil menikmati olahan durian yang lain yaitu oblang. Setelah dirasa cukup, para perserta termasuk sama dipersilakan beristirahat untuk mempersiapkan acara besok.

Keesokan harinya saya dan kawan-kawan peserta Juguran Pesta Durian diajak blusukan ke Curug Goa yang lokasinya tidak jauh dari tempat kami menginap. Kendaraan kami titipkan di rumah warga kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki menyusuri jalan setapak. Jalan setapak yang kami lalui cukup terjal dan licin karena medan jalan yang menurun serta beberapa titik menjadi aliran air. Untung saja saat tiba di area Curug Goa tidak ada menemui kendala dan kami menikmati suasana Curug Goa yang asri dan alami.

Durian Kromo

Setelah puas berada di Curug Goa, kami melanjutkan acar Juguran Pesta Durian yaitu mengunjungi salah satu petani durian dimana varietas duriannya telah mendapat pengakuan dari daerah dan pusat. Varietas durian tersebut dinamakan durian kromo dan asal usul nama kromo berasal dari nama orang yang mengembangkan durian tersebut. Perjalanan menuju ke rumah Pak Kromo tidak mudah dan melalui rintangan jalan yang cukup sulit. Sepeda motor kami pacu melewati jalan tanah, menyebrangi sungai, dan mendaki tanjakan curam yang membuat beberapa motor sulit untuk melewatinya.

Saat tiba di lokasi, kami langsung disambut oleh Pak Kromo dan dipersilakan memasuki rumahnya untuk berbincang-bincang. Tiba-tiba kami merasa kaget karena disuguhi Durian Kromo yang telah beliau kembangkan bertahun-tahun. Ukuran durian kromo cukup besar dengan daging tebal, berwarna kuning keorenan, dan bau yang tajam membuat kami tidak sabar ingin mencicipinya. Durian kromo yang disuguhkan pun habis seketika dan kami sangat puas dengan daya tarik rasa yang dimilikinya. Rasa durian ini sangat enak dibandingkan durian monthong impor atau durian yang kami makan sebelumnya saat acara Juguran Pesta Durian berlangsung. Tidak hran bila durian kromo menjadi primadona durian yang dicari oleh orang-orang yang tinggal di sekitar Banyumas. Setelah dirasa cukup akhirnya kami berpamitan dengan Pak Kromo dan kembali ke lokasi tempat kami berkumpul. Acara terakhir adalah melihat bazar durian yang diselenggarakan panitia dan acara tersebut bertujuan mempertemukan antara petani dengan pembeli tanpa melewati tengkulak. Diharapkan acara bazar tersebut membuka jalan buat petani agar mampu menjual duriannya sendiri dan dihindarkan dari tengkulak yang membeli dengan harga rendah.

Acara Juguran Pesta Durian ini cukup menarik disamping mengenalkan daya tarik durian lokal juga saling berbagi pendapat antara peserta dengan petani. Banyak pelajaran yang dapat ditangkap dari acara tersebut karena selain berkonsep wisata kuliner juga diberikan sedikit edukasi tentang cara menyambung bibit durian sebelum ditanam. Dibalik segala kelebihan dan kekurangan, saya mengacungi jempol dengan penyelenggaraan acara Juguran Pesta Durian ini. Semoga tahun kedepan kembali diselenggarakan dengan konsep yang lebih menarik. (text/foto: annosmile)

—–

Juguran Pesta Durian

Lokasi: Alasmalang, Kemranjen, kabupaten Banyumas

Comments
  1. Estiko
  2. Ronie
  3. ahmad k

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *