Berpetualang Ke Pantai Parang Kursi, Banyuwangi

Rerimbunan Pohon Di Tepi Pantai Parang Kursi Banyuwangi

Nama Pantai Parang Kursi terdengar asing ditelinga saya saat menerima ajakan menjelajah pantai tersebut oleh seorang teman yang tinggal di Banyuwangi. Sebagai pelintas jalan, saya hanya mengetahui potensi wisata Banyuwangi yang sudah terkenal seperti Pantai Pulau Merah, Pantai Plengkung, Kawah Ijen, Taman Nasional Baluran, dan sebagainya. Seorang kawan yang merupakan sahabat lama yang bernama Alannobita ini memberitahu keberadaan pantai tersebut yang konon masih alami dan jarang dikunjungi wisatawan. Sekedar informasi, Pantai Parang Kursi terletak di dusun Ringinagung, desa Pesanggaran, kecamatan Pesanggaran, kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.

Rute Menuju Pantai Parang Kursi

Rute dari tempat saya menginap di Genteng langsung saya arahkan sepeda motor menuju ke Jajag. Dari simpang utama tugu Jajag ikuti jalan menuju ke arah Pantai Pulau Merah karena posisi Pantai Parang Kursi berada di sebelah timur kawasan wisata tersebut. Sekitar 5 kilometer berselang akhirnya ditemukan papan petunjuk arah menuju ke pantai tersebut. Kondisi jalan yang dilalui sebagian besar dalam kondisi rusak dan sebagian lagi masih berupa jalan tanah. Tidak ada kendaraan umum menuju ke pantai ini dan pengunjung disarankan menggunakan kendaraan beroda dua atau sepeda motor.

Annosmile Di Pantai Parang Kursi Banyuwangi

Beratnya Medan Jalan

Kami berangkat menuju ke Pantai Parang Kursi Banyuwangi dengan berjalan kaki menyusuri jalan setapak setelah memarkir sepeda motor di tempat penitipan motor. Dengan langkah optimis kami menapaki jalan setapak yang kami lewati. Secara tidak sengaja kami berpapasan dengan warga sekitar yang pulang dari ladang dan memberitahukan jarak perjalanan dan perkiraan waktu perjalanan. Akhirnya kami mendapat informasi bahwa jarak perjalanan sekitar 1-2 kilometer dengan waktu tempuh sekitar setengah jam.

Namun perkiraan tersebut meleset, hampir setengah jam melewati jalan setapak yang sebagian becek terendam muara sungai yang meluap akhirnya dihadapkan pada jalan setapak menuju ke puncak bukit. Bunyi deburan ombak khas pantai selatan pun tidak terdengar sama sekali. Melihat kondisi demikian sepertinya belum setengah perjalanan menuju pantai kami lampaui. Kami sempat berpikir ulang untuk melanjutkan perjalanan menuju ke pantai atau menyerah serta kembali ke area parkir. Karena rencana awal kami ingin menengok Pantai Parang Kursi sebentar kemudian menuju ke Pantai Pulau Merah untuk mengabadikan matahari terbenam. Namun diputuskan kami akan melanjutkan perjalanan dan akan mengunjungi Pantai Pulau Merah di lain hari saja.

Perjalanan mendaki bukit kecil cukup memberatkan karena kondisi jalan tanah yang basah dan licin. Kami sempat melewati area tambang emas yang diusahakan rakyat atau kelompok kecil karena jalur menuju ke pantai memang melalui kawasan tersebut. Kondisi hutan di sekitar area tambang ini mulai gundul dan terancam rusak bila dibiarkan lebih lanjut. Semoga pemerintah dapat mengambil tindakan dan solusi agar alam kembali lestari. Setelah melewati area tambang, kami melewati area hutan jati yang lebat dan area hutan tropis yang banyak ditemukan beraneka jenis tanaman. Kondisi jalan perlahan-lahan menurun namun bertambah licin akibat banyak kubangan air di sepanjang jalan. Sekitar 20 menit kami lalui akhirnya kami tiba di tepi pantai. Total waktu perjalanan dari area penitipan kendaraan hingga tiba di tepi Pantai Parang Kursi sekitar satu setengah perjalanan. Hal ini memecahkan rekor waktu jalan kaki terlama menuju area pantai yang kami lakukan di Pantai Watu Lumbung Gunungkidul dengan waktu 40 menit.

Batu Karang Raksasa Pantai Parang Kursi Banyuwangi

Akhirnya Terbayarkan!

Suara ombak yang sayup-sayup terdengar dalam perjalanan menyusuri jalan setapak membuat semangat kami muncul kembali. Beberapa menit berselang akhirnya kami tiba di tepi Pantai Parang Kursi Banyuwangi. Hamparan pasir pantai yang luas memanjang dari sisi timur hingga ujung sebelah barat. Kondisi pasir pantai cukup halus dan lembut karena jarang terjamah manusia. Begitu pula sampah masih jarang ditemukan kecuali pada beberapa sudut tepi pantai terdapat gumpalan sampah ranting yang terdampar saat ombak pasang.

Batuan karang raksasa yang letaknya sedikit menjorok ke tengah laut di Pantai Karang Kursi banyuwangi terliaht menarik. Batuan karang tersebut berwarna putih dan terlihat memiliki pola yang cukup unik. Salah satu batu karang raksasa yang menjulang tinggi katanya menjadi ikon dan ciri utama pantai tersebut. Pengunjung yang berangkat bersama kami menjadikan spot batu tersebut menjadi spot foto favorit.

Mistis

Batu Karang Raksasa yang berada di sisi barat Pantai Parang Kursi Banyuwangi memiliki cerita mitos atau legenda yang berkaitan dengan penguasa laut selatan yaitu Nyi Roro Kidul. Salah satu batu karang raksasa memiliki bentuk seperti kursi singgasana dan konon sebagai tempat duduk Nyi Roro Kidul. Pengunjung diharapkan menjaga sopan santun saat berwisata ke tempat ini atau ke tempat-tempat lain agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Perbekalan Yang Dibawa Ke Pantai Parang Kursi Banyuwangi

Capek!

Perjalanan pulang dari Pantai Parang Kursi Banyuwangi menuju ke area parkir kendaraan ternyata lebih melelahkan dibandingkan saat berangkat. Bila saat berangkat banyak medan jalan yang menurun maka pada jalan pulang sebaliknya yaitu medan jalan naik. Kondisi fisik yang sudah lelah ditambah dengan menipisnya dan habisnya bekal membuat kami beberapa kali berhenti untuk beristirahat.

Alhamdulillah tanpa ada kurang apapun akhirnya kami tiba di area parkir atau tempat penitipan parkir pada waktu pukul lima sore dan sebelum malam tiba. Kami sempat was-was bila waktu telah memasuki malam namun belum tiba di lokasi penitipan parkir kendaraan. Kondisi jalan yang melewati area hutan tropis yang lebat cukup berbahaya oleh aktivitas hewan liar pada malam hari yang tidak terlihat. Tidak lucu bila nanti bertemu degan hewan liar seperti harimau, kucing hutan, dan hewan buas lainnya yang katanya masih sering berkeliaran di hutan ini. Kami beristirahat hampir setengah jam disebuah warung sambil memesan minuman untuk memulihkan stamina dan fisik yang terkuras. Setelah fisik dirasa cukup membaik akhirnya kami melanjutkan perjalanan pulang kembali ke tempat tinggal masing-masing. (text/foto: annosmile)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *