Selamat Pagi Wonosobo

Tulisan Wonosobo Asri

Tulisan Raksasa Wonosobo Asri menyambut kami ketika berhenti di tepi Alun-Alun Wonosobo untuk sarapan pagi sebelum melanjutkan perjalanan menuju Dataran Tinggi Dieng. Perjalanan dari Yogyakarta dari jam setengah lima pagi dengan perkiraan tiba di Wonosobo pada pagi hari agar tidak terkena kemacetan lalulintas. Kali ini kami berangkat ke Dataran Tinggi Dieng lewat Wonosobo untuk menyaksikan perhelatan tahunan Dieng Culture Festival (DCF) dengan daya tarik utama pertunjukkan Jazzatasawan (Jazz Atas Awan) dan Pemotongan Rambut Bocah Gimbal. Kembali mengenai kota Wonosobo, sudah banyak perkembangan kota Wonosobo sejak terakhir saya mengunjunginya pada tahun 2014 juga dalam perjalanan menuju ke Dataran Tinggi Dieng.

Suasana pagi di sekitar Alun-Alun Wonosobo cukup ramai dengan banyaknya orang yang berhenti untuk sarapan. Sepertinya tujuan mereka sama dengan kita yaitu sarapan pagi terlebih dahulu sebelum berangkat menuju Dataran Tinggi Dieng. Perhelatan tahunan tersebut cukup menjadi magnet wisatawan dari luar daerah untuk datang ke acara tersebut. Meskipun sebagian dari dari mereka dan juga termasuk kami tidak membeli tiket acara Dieng Culture Festival karena hanya ingin menikmati keriuhan acara festival dan mendapatkan kepuasan yang hampir sama dengan wisatawan yang membeli tiket acara.

Nasi Gudeg Di Alun-Alun Wonosobo

Pilihan bersantap pagi di sekitar Alun-Alun Wonosobo ada beberapa macam seperti nasi gudeg, bubur ayam, nasi urap, dan mie instant rebus. Kuliner khas Wonosobo yaitu mie ongklok (baca: Mie Ongklok Longkrang Wonosobo, Sajian Mie Rebus Dengan Sate Sapi) justru tidak tersedia dan sepertinya kurang cocok digunakan sebagai menu sarapan. Saya akhirnya lebih memilih nasi gudeg diantara pilihan menu sarapan yang dijual oleh pedagang kakilima. Nasi gudeg dengan pilihan lauk telor ayam segera tersaji dengan piring dari anyaman rotan yang dilapisi kertas minyak. Tanpa menunggu lama saya segera menyantapnya. Cita rasa nasi gudeg yang disajikan tergolong biasa bagi lidah saya dan lebih enak cita rasa gudeg dari kota asalnya yaitu Yogyakarta. Namun keberadaannya cukup mengenyangkan isi perut hingga tiba di Dataran Tinggi Dieng. Segelas teh hangat sebagai pendamping dalam menikmati gudeg cukup menghangatkan suasana yang pagi itu agak terasa dingin. Harga yang ditawarkan untuk seporsi nasi gudeg telur dan teh hangat tergolong standar untuk orang yang sedang menempuh perjalanan. (text/foto: annosmile)

Comments
  1. Iqbal Kautsar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *